• Login
Resensi.id
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
Resensi.id
No Result
View All Result

Di Balik Problem-Problem Teologis

admin oleh admin
28 Februari 2019
kategori agama
0
0
SHARES
6
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Judul Buku : Apa  Jadinya Dunia Tanpa Islam?
Pengarang : Graham E. Fuller
Penerbit : Mizan
Cetakan : November 2014
TebalBuku : Ivxiv+ 405hlmn: 15×23 cm
Peresensi  : Fathan Zainur Rosyid

Semakin suatu agama terkait erat dengan kekuasaan negara, semakin ia terseret menjauhi wilayah intelek dan ruhani serta masuk ke wilayah politik-ekonomi dengan akibat-akibat langsung bagi kekuasaan negara dan pihak yang berwenang.

Jika Anda masih beranggapan bahwa problem intoleransi penyebabnya hanya persoalan pemahaman agama-teologis an-sich, saya sarankan Anda untuk membaca buku ini.

Di tengah maraknya problem intoleransi, dimunculkannya isu suku, agama, ras, antar golongan (SARA) dewasa ini bersamaan dengan fenomena dunia yang serba cepat dan instan seakan menunut kita untuk saling tanggap-menanggapi.

Sehingga  tidak terasa pandangan-pandangan kita ternyata simplifikatif dan tidak subtantif. Anda tidak perlu baper membaca judul buku ini. Graham tidak bermaksud merendahkan Islam, dengan kekayaan nilai-nilai ajarannya, peninggalan peradaban,budaya,seni, dll.  Sebab jika kita sudah membacanya, niscaya kita akan mengatakan beribu terima kasih pada pengarangnya.

Mengapa demikian? Memang tidak ada jaminan pembaca akan seratus persen mengimani argumentasi-argumentasi yang ada di buku ini, tapi minimal pembaca akan disuguhkan persepektif yang lain tentang perdebatan teologis selama ini.

Kita akan diajak menelusuri sejarah tiga agama semit. Bagaimana relasi antara Agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Spesifiknya bagaimana pandangan Islam tentang Kristen dan Yahudi. Kristen tentang Islam dan Yahudi. Yahudi tentang Kristen dan Islam.

Buku ini juga membongkar kembali sejarah peradaban dari Rusia hingga China dan relasi serta  dinamikanya  dengan agama-agama semit terutama dan tentu saja Islam.

Melalui pendekatan sejarah Graham ingin menunjukan bahwa sebenarnya ketegangan-ketegangan antara barat dan timur pada hakikatnya bukan karena Islam (baca: fasis-konservatif).Lantas faktor determinan apa yang melatar belakanginya?

Tentang Bid’ah

Agama, dalam sebagian bentuknya dapat didefinisikan sebagai keyakinan bahwa dewa-dewi berada di pihak pemerintah. – Bertrand Russel-

Graham menulis kutipan di atas dalam prolog pembahasannya tentang bid’ah. Dengan membaca kutipan di atas anda barangkali mulai mengerti arah pembahasannya.

Ya, Graham tidak sedang mendiskusikan perihal mana yang benar dan salah terkait pro-kontra bid’ah, melainkan menjelaskan dinamika pelik yang mewarnai proses marginalisasi hingga ekslusi yang dialami sekte –sekte yang dianggap telah menyebarkan paham bid’ah.

Uniknya ia lebih memilih membahas dinamika perdebatan bid’ah dalam Kristen alih-alih membahas dinamika perdebatan bid’ah dalam Islam. Hal ini tentu saja bukan tanpa alasan. Menurut pandangan saya setidaknya ada tiga alasan.

Pertama, selain karena dalam sejarah Kristenlah yang lebih dahulu memunculkan perdebatan tentang bid’ah (hal 72) secara eksplisit Graham mengatakan bid’ah Kristen lebih urgent.  Dalam artian bid’ah Kristen di seputar ketuhanan menimbulkan efek yang besar hingga mempengaruhi eksistensi gereja Roma.

Kedua, tanpa bermaksud menegasikan perdebatan teologis tentang persoalan bid’ah, dalam sejarahnya apa yang terjadi pada Kristen polanya akan kurang lebih sama dengan Islam dan tentu saja endingnya seperti dalam kutipan Bertrand Russell di atas. Sekte yang dekat pemerintahlah yang berhasil menang dan eksis.

Tesis menarik dari teolog Jerman Walter Beuer pada akhir abad ke-sembilan belas mengkaji evolusi doktrin Kristen awal dan mencapai kesimpulan bahwa apa yang sekarang ini kita anggap bid’ah sebenarnya seringkali mencerminkan pemahaman-pemahaman paling awal tentang kodrat yesus (baca; hal 77).

Ketiga, apa yang saya katakan di atas bahwa bid’ah dalam dunia kristen lebih urgent juga mempunyai arti bahwa dibalik perdebatan bid’ah tadi sebab ada kepentingan geopolitik dalam dunia Islam. sehingga munculnya Islam tinggal meneruskan konflik geopolitik di kawasan Timur – Barat, tentu dengan corak Islam didalamnya.

Jihad dan Terorisme

Sebagaimana saya singgung di paragraf awal bahwa barangkali banyak dari kita yang beranggapan bahwa problem intoleransi agama hanya karena faktor indoktrinasi serta akibat keliru penafsiran belaka. Dalam tulisan ini Graham dengan sangat baik menjelaskan bagaimana term jihad dari waktu ke waktu secara serampangan di salah gunakan. Tak hanya itu Graham kemudian menjelaskan faktor-faktor bagaimana golongan/kelompok dalam prosesnya terperosok dalam jerembab pemahaman jihad ekstrem.

Politik campur tangan (imperialisme) Barat terhadap negara Timur membuat muak dan menimbulkan perlawanan sebagian kelompok di dunia Timur. Hingga sekilas akan  nampak bahwa apa yang dilakukan kelompok ekstremis yang melawan Barat dengan ledakan bom dan senjata (seadanya) atas nama jihad itu wajar.

Bahkan dengan sangat yakin Graham menegaskan istilah apapun namanaya perlu dicatat, hukum internasioanal memang membenarkan perlawanan bersenjata oleh sebuah bangsa melawan kekuatan-kekuatan militer asing yang menyerbu atau menduduki. Sampai pada akhirnya muncul justifikasi ‘terorisme’ bagi kelompok yang melawan status quo dengan mengangkat senjata.

Dalam konteks Amerika dengan negara-negara di Timur Tengah, campur tangan Amerika dengan gaya imperialismenya memaksa sebagian kelompok golongan apapun agamanya (kebetulan mereka memeluk Islam) mengobarkan perlawanan.

Kesimpulan

Kesimpulannya, pengaruh geopolitik, kekuasaan, perebutan sumber daya alam adalah faktor deterninan yang menyebabkan berbagai perdebatan teologis tersebut. Intoleransi, jihad, terorisme pada dasarnya hanya dalih untuk menutupi kepentingan geopolitik tersebut.

Graham menggunakan pendekatan sejarah untuk berargumen bahwa tanpa Islam pun dan tanpa perdebatan teologispun konflik-konflik Barat dan Timur akan tetap berlangsung sengit.

Tentu tulisan singkat ini jauh dari kata sempurna untuk menangkap secara utuh pesan dari buku setebal 405 halaman ini. Meskipun ada beberapa narasi yang perlu didukung dengan buku-buku riset sejarah agama semit yang lain, saya menangkap satu pesan penting yang disampaikan buku ini, yang jika disampaikan melalui kalimat langsung kira kira begini.

Bagi kalian pejuang, pegiat, pengamat masalah-masalah benturan teologis, keberagaman, intoleransi, dan sejenisnya, lihatlah satu lapis di bawah problem teologis itu sendiri, yakni kepentingan ekonomi dan politik. 

 Selamat membaca!

Previous Post

Identitas dan Kebebasan

Next Post

Sejarah Peradaban Islam dari Kaca Mata Tapol Pulau Buru

Next Post

Sejarah Peradaban Islam dari Kaca Mata Tapol Pulau Buru

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?
oleh Ilham SR
21 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?
oleh Etika Filosofia
20 Februari 2026
1
ShareTweetSendShare

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

oleh admin
19 Desember 2024
0
ShareTweetSendShare

Moral dalam Lintasan Teknologi dan Agama

Definisi Moral
oleh Muhammad Imam Farouq
20 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

"Baca Apa Yang Ingin Kamu Baca"

Menu

Penulis

Kontak

Daftar

Menjadi Penulis

Syarat Ketentuan

Privacy Policy

Copyright © 2023 Resensi.id. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi

© 2022 Resensi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In