• Login
Resensi.id
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
Resensi.id
No Result
View All Result

Dalam Cinta Semua Waktu Adalah Tepat

admin oleh admin
29 April 2020
kategori sastra
0
0
SHARES
5
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Judul
: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
Penulis
: Phutut Ea
Penerbit
: Buku Mojok
Cetakan
: Cetakan pertama, 2019
Tebal
: 255 halaman
ISBN
: 978-623-7284-20-8
Peresensi
: Siti Barokhatin Ni’mah
Diceritakan bahwa tokoh Aku sebagai sosok laki-laki petualang cinta. Beberapa kali dikisahkan dekat dengan perempuan, dan beberapa kali pula kisahnya tidak dapat dilanjutkan. Sebagaimana di awal cerita, tokoh Aku bertemu dengan perempuan yang telah lima tahun lebih tidak bertemu. Perempuan itu juga yang menjadikannya kesulitan untuk mencintai perempuan lain, lagi.
Dalam perjalanannya, saat masa perkuliahan tokoh Aku bergabung dengan kelompok diskusi politik serta menjadi tim agitasi dan propaganda saat memperjuangkan turunnya rezim Soeharto tahun 1998. Phutut dalam karya yang satu ini begitu runtut mendeskripsikan bagaimana tokoh Aku berperan pra dan pasca aksi ‘98. Sosok idealis yang justru bertentangan dengan keputusan struktural teratas organisasi. Potret yang sudah menjadi hal biasa, kaum tua dan kaum muda berbeda pendapat.
Merenungkan tentang kemanusiaan, yang di dalamnya menyangkut agama, ekonomi, keadilan, membuat tokoh Aku semakin sesak karena menyadari bahwa dia hanya orang kecil, orang biasa yang bagaimanapun tetap dimintai pertanggungjawaban dimasa hidupnya. Dia begitu menghargai harapan, Phutut menuliskannya.

“Hei, jangan pernah menghancurkan harapan seseorang, sebab jangan-jangan hanya itu satu-satunya hal penting yang mereka miliki”.

Melalui pemikiran yang dilematis, tokoh Aku memutuskan untuk keluar dari struktural organisasi. Dan mengatakan bahwa, “Kita harus siap sepi. Penderitaan bagi orang seperti kita adalah sebuah keputusan politik”. Dalam waktu-waktu keputusan itu ia pilih, di hari-hari itu pula kekasih yang menemani dimasa-masa sulit meninggalkannya.
Dalam masa-masa sulit itu, sahabat-sahabatnya berduyun-duyun membantu dan memberi semangat. Digambarkan oleh banyak orang, bahwa tokoh Aku merupakan sosok yang tidak layak untuk tidak bahagia. Dikaruniai banyak hal penting yang dapat mengukuhkan banyak hal dalam hidupnya. Tapi ternyata, tokoh Aku merasa tak lebih dari sekadar seorang pesakitan yang murung dan selalu tercenung di dalam kamar.
Tokoh aku memutuskan untuk menjadi penulis dalam suatu naungan. Rutinitas itu membuatnya kembali bersemangat melakoni hari-harinya. Dalam sekian panjang perjalanan, ia dikagetkan oleh perkataan perempuan yang dia cintai sekaligus telah meninggalkannya, yang mengatakan bahwa ia masih mencintainya. Sayangnya, kekasih tersebut kini telah bersuami dengan laki-laki lain, dan sudah beranak.
Meski begitu, keduanya berjanji untuk tidak menghubungi lagi dan perempuan tersebut mengatakan “Aku akan mencintaimu dengan cara yang paling sunyi”. Meski terlihat baik-baik saja, hal ini kembali menggoyahkan semangat tokoh Aku dan membuatnya kembali dalam keadaan ‘jatuh’. 
Dalam masa-masa kejatuhannya, ia memutuskan untuk menemui Tante Wijang, sosok yang menurutnya bijaksana. Tante Wijang menyarankan untuk mengubah cara hidup, menanggung dan mengobati lukanya. Yoga dan meditasi ia lakoni, kemudian mengunjungi hal-hal baik lain yang dia namai surga-surga kecil. Di pertengahan awal cerita, tokoh Aku akhirnya menemukan cinta sejatinya.
Phutut EA, Penulis lulusan Fakultas Filsafat UGM ini begitu lihai membuat pembaca mencermati kembali halaman demi halaman yang telah selesai dibaca. Alur maju-mundur yang disuguhkan cukup membuat pembaca kesulitan merangkai kembali cerita yang telah disusun rapi. Meski begitu, banyak pesan-pesan intrinsik yang disampaikan penulis dalam novel ini.
Saya mencoba membaca karya Puthu dengan melihat dari persektif lain, bahwa dalam diskursus mindfullnes kita dilatih untuk melakukan kesadaran penuh dalam aktivitas sehari-hari. Berfokus pada apa yang dijalani saat ini dan melakukan yang terbaik. Jika sudah begitu, apa-apa yang sudah terjadi akan kita terima.
Bukan sekedar pasrah, karena apa yang terjadi, terjadi dengan kesadaran. Seperti halnya peristiwa-peristiwa yang menimpa tokoh Aku, yang dia sendiri berpikiran bahwa dia telah mengalami banyak kesialan dalam hidup. Namun jika ditelisik, kesialan-kesialan itu yang mengantarkannya sampai pada posisi saat ini. Apa yang hari ini dicapai merupakan hasil dari perjalanan yang telah dilalui. Keadaan saat ini, adalah tentang bagaimana kita memaknai hari-hari yang telah lalu.
‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’, suatu kondisi yang coba dijelaskan oleh penulis melalui tokoh Aku. Suatu judul yang menyiratkan makna pesimisme, penegasan juga penyesalan. Namun di akhir, diceritakan kembali kita tidak harus kesal terhadap sesuatu yang tidak tepat waktu.
Tugas kita adalah mencoba memberi harga pada berbagai peristiwa, juga hal-hal yang sepintas dianggap tidak menyenangkan. Peristiwa yang tidak menyenangkan hari ini belum tentu tidak menyenangkan dihari esok, juga sebaliknya. Penyesalan-penyesalan baiknya kita maknai ulang, karena mungkin dapat berubah menjadi pemakluman. Maka, sebenarnya semua waktu adalah tepat, hanya kita yang belum tepat memaknainya.
Tulisan Siti Barokhatin Ni’mah lainnya
Menguak Sejarah yang Dibelokkan
Previous Post

Alam Raya Tanpa Permulaan

Next Post

Sepak Bola Modern dalam Kaca Mata Zen Rs

Next Post

Sepak Bola Modern dalam Kaca Mata Zen Rs

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?
oleh Ilham SR
21 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?
oleh Etika Filosofia
20 Februari 2026
1
ShareTweetSendShare

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

oleh admin
19 Desember 2024
0
ShareTweetSendShare

Moral dalam Lintasan Teknologi dan Agama

Definisi Moral
oleh Muhammad Imam Farouq
20 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

"Baca Apa Yang Ingin Kamu Baca"

Menu

Penulis

Kontak

Daftar

Menjadi Penulis

Syarat Ketentuan

Privacy Policy

Copyright © 2023 Resensi.id. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi

© 2022 Resensi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In