• Login
Resensi.id
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
Resensi.id
No Result
View All Result

Sudut Pandang Roda Kehidupan

admin oleh admin
15 Juli 2020
kategori agama, sastra
0
0
SHARES
9
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp


Apakah makna sebenarnya dari kata ‘hidup’? Kata yang seringkali kita ucap, namun banyak dari kita yang merasa tersesat dalam hidup itu sendiri. Kefanatikan manusia akan suatu pandangan hidup, membuat paham saklek versinya, bahkan tidak jarang menyudutkan saudaranya layaknya pendosa. Buku #HidupKadangBegitu: Refleksi tentang Agama, Ilmu, dan Kemanusiaan ini mengajak kita bagaimana selayaknya memandang hidup melalui kisah Dynamic Duo.

Tak Cukup Kau Terka, Mari Kita Baca

Judul dan sinopsis buku ini mungkin membuat para pembacanya beranggapan isinya sama dengan buku kumpulan kisah karya penulis lainnya. Nyatanya begitu membacanya apa yang disangkakan tidak ditemukan, seperti yang diungkapkan Gus Nadir 

“..membaca satu halaman saja, bisakah Anda mengklaim telah menyerap semua informasi yang dihidangkan dalam buku tersebut? Apa yang anda ketahui hanya terbatas dalam satu halaman saja dari sekian ratus halaman…(h.95).”

Seolah penulis ingin menghimbau agar waspada terhadap hal yang spekulatif, dan ketika telah usai barulah mampu memaknai. Dalam Islam dikenal dengan istilah jangan su’udzon dahulu.

Buku ini menuliskan kisah dari kehidupan Gus Nadir dan Kang Maman, yang pastinya berbeda. Dikemas secara apik dalam tiga chapter besar. Tujuan buku ini, mengajak para pembacanya menyikapi segala hal dalam hidup ini dengan berpikir positif dan bersikap optmis. 

Hal ini tampak pada bagian pendahuluan yang berisi bait (janji pada diri) untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bait ini merupakan hasil kutipan buku karya Christian D. Larson, Your Forces and How to Use Them (1912) yang diterjemahkan Gus Nadir dengan versinya. Meskipun begitu pendahuluan ini mampu menggetarkan hati pembaca.

Ngobrol Ringan tentang Agama

            Catatan kisah dan hikmah hasil kolaborasi antara Gus Nadir dan Kang Maman tentang agama sangat luwes. Mampu merasuk ke hati dan tidak seperti karya umumnya yang cenderung kaku dengan segala dalil yang harus ada. 

Bahkan Gus Nadir mengajak pembaca memetik hikmah kesabaran dan pengorbanan dalam sepenggal kisah sejarah agama Kristen. Bagian ini sangat menarik, diramu dengan tepat, menyatu-padu dan saling mengisi, hingga seolah ditulis oleh seorang penulis yang sama. 

Kisah ketersadaran Ali bin Abi Thalib r.a. dalam peperangan juga tidak kalah menariknya untuk diteladani. 

“Tatkala Ali dalam peperangan mudah saja baginya untuk membunuh musuhnya, namun ia justru menurunkan pedangnya dan urung memenggal ketika musuh meludahi wajahnya. Ali takut membunuh lawannya bukan semata karena Allah, tapi ia lakukan karena amarah (h.19)”

Bagian ini menyadarkan bagaimana hakikat islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, melalui berbagai kisah yang dialami penulis maupun kisah para pendahulu kita. “Maksiat yang melahirkan rasa hina dan kekurangan, lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan, Kitab Al-Hikam (h.73). Sepenggal kutipan itu pun membuat pembaca kembali teringat diri sendiri yang begitu hina justru menganggap kehinaan ada pada orang lain. Menjadikan pengharapan diterimanya amal dan dimatikan dalam keadaan husnul khatimah.

Ngobrol Ringan tentang Ilmu

Tuhan,

Jadikan kami seperti air yang jernih

Yang bermanfaat bagi sesama

Jadikan kami pula seperti emas yang bersinar

Yang dicari dan dihargai semesta (h.89)

             Sesuai dengan judul yang tertulis, bagian kedua ini berisi tentang pembahasan ilmu. Berbeda dengan bagian pertama yang begitu menyatu-padu, disini sangat jelas terlihat bagaimana Gus Nadir membahas ilmu versinya dan Kang Maman membahas ilmu dalam ranahnya sendiri. Intinya bagian ini mengajak pembacanya menjadi pribadi yang penuh semangat dan keoptimisan.

Melalui kisah legenda air dan emas Gus Nadir menyampaikan pesan yang amat dalam. Banyak orang pandai, hingga keberadaannya sama dengan air yang ada dimana-mana, hingga dia dibutuhkan tapi tidak dicari, diperlukan tapi tidak dihargai. 

Merubah diri dari air menjadi emas membutuhkan visi, strategi, dan lompatan anti mainstream dalam hidup. Begitupun Kang Maman mengajak untuk selalu merunduk penuh tawaduk, merendahkan diri dan memuji-Nya. Layaknya orang yang tengah sujud, bokongnya lebih tinggi dari hati, kening, dan otak yang selama ini selalu dibanggakan.

Ngobrol Ringan tentang Kehidupan

            “Last chapter make people stronger”. Kalimat yang cukup mewakili betapa bagian ini sangat perlu diketahui banyak orang. Chapter yang terlihat begitu biasa nyatanya menjadi bagian terindah dalam buku ini.

Perasaan pembaca diombang-ambing dengan hikmah dari kisah-kisah yang mampu membuat takjub, tangis dan tawa. Teladan keikhlasan dan kesalahan seorang guru, bagaimana menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia lain, syukur, pejuang literasi dan keragaman dalam persatuan. Bagian yang paling membuat air mata berjatuhan adalah 27 Agustus tentang kisah Caca, putri komedian Komeng yang kini telah disisi-Nya (h.211).

Dalam satu buku ini begitu banyak emosi yang ada, menghantarkan pembaca menjadi manusia yang menghamba dengan sami’na wa ‘atho’na. Buku yang unik karena ditulis oleh dua penulis yang mempunyai cara pandang berbeda. Namun, mempunyai tujuan sama mengajak pembaca merubah cara pandangnya terhadap dunia. 

Pesan nenek Kang Maman akan selalu terkenang, Hidup itu bukan tentang siapa yang lebih duluan lahir dan lebih tua, atau lebih panjang umurnya. Tapi, siapa yang lebih memberi manfaat kepada sesamanya (h. 213).

Intinya buku ini berpesan agar pembaca selalu berpikir positif dan bersikap optimis. Sesuatu yang mudah ditulis, namun sulit dikerjakan, bukan berarti lantas dihiraukan. 

Sayangnya ada beberapa kata yang cukup asing dan sulit dipahami namun tidak disertai penjelasannya, sehingga ungkapan dan petuah yang bijak nan indah menjadi kurang termaknai. Alangkah lebih baiknya semua ungkapan atau kata yang mempunyai makna tersirat dan asing ada penjelasan yang membukakan pengetahuan baru bagi pembacanya, bukan menimbulkan tanda tanya. 

Namun demikian setitik kealfaan tersebut tidak sedikitpun mengurangi kualitas karya ini. Buku ini sangat layak dimiliki dan dibaca oleh semua kalangan, tanpa mengenal usia. Khususnya anak muda yang mulai beranjak dewasa, dan sedang mengalami quarter life crisis.

Judul: #HIDUPKADANGBEGITU (Refleksi tentang Agama, Ilmu, dan Kemanusiaan)
Penulis: Nadirsyah Hosen & Maman Suherman
Ukuran: 14 x 21 Cm
Tebal: 238 halaman
Cetakan: Cetakan ke-1, Maret 2020
ISBN: 978-623-242-111-0
Penerbit: Mizan Publika
Peresensi: Nazilatus Syafa’ah

Previous Post

Masyarakat Tanpa Kelas dalam Pandangan Muhammad SAW dan Karl Marx

Next Post

Apa yang Dibebaskan oleh Teologi Pembebasan

Next Post

Apa yang Dibebaskan oleh Teologi Pembebasan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?
oleh Ilham SR
21 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?
oleh Etika Filosofia
20 Februari 2026
1
ShareTweetSendShare

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

oleh admin
19 Desember 2024
0
ShareTweetSendShare

Moral dalam Lintasan Teknologi dan Agama

Definisi Moral
oleh Muhammad Imam Farouq
20 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

"Baca Apa Yang Ingin Kamu Baca"

Menu

Penulis

Kontak

Daftar

Menjadi Penulis

Syarat Ketentuan

Privacy Policy

Copyright © 2023 Resensi.id. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi

© 2022 Resensi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In