• Login
Resensi.id
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
Resensi.id
No Result
View All Result

Empat Hal dari Bumi Manusia

admin oleh admin
13 Mei 2020
kategori sastra
0
0
SHARES
52
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Tepat satu minggu kemarin saya mengatamkan novel bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer. Ada beberapa kalimat yang yang paling penulis ingat: (1) seorang pelajar harus adil sejak dalam pikiran, (2) cinta tidak datang mendadak, cinta lahir dari budaya, tidak seperti batu jatuh dari langit, (3) Annelis yang tak menoleh saat meninggalkan rumah ke Belanda, dan (4) kita telah berjuang dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Kalimat yang pertama, sebelum saya membaca novel tersebut, sering dikutip beberapa teman. Sampai-sampai penulis mengira itulah inti dari novel Bumi Manusia. Kalimat itu terasa indah dan menggetarkan sanubari. Mungkin karena muatannya terlalu indah, dalam berbagai diskusi, mereka sering mengutipnya, seakan selalu relevan. Penulis pun hanya memperhatikan, tanpa mengiyakan atau menolak. Alasannya, Penulis belum membaca novel Bumi Manusia waktu itu.

Kemarin, awal membaca, penulis menanti-nanti, di mana letak kalimat indah itu. Tak disangka, ternyata kalimat itu justru tidak diungkapkan oleh tokoh utama dalam seri pertama dari novel Tetralogi Pulau Buru: Minke, tapi diucapakan oleh Jean Marais, seorang pelukis asal Prancis, yang juga menjadi teman dekat Minke. Tentu kalimat indah itu ditujukan untuk Minke. Menasehati Minke.

“Sebagai pelajar, kamu harus sudah adil sejak dalam pikiran, Minke!” kata Jean kepada Minke.

Maksud dari kalimat itu, agar Minke tidak hanya ikut-ikutan pandangan masyarakat umum, yang dia sendiri belum tahu faktanya. Waktu itu, Minke baru bertemu dengan Nyai Ontosoroh. Pandangan umum menganggap moyoritas nyai—termasuk Nyai Ontosoroh—termasuk wanita rendah. Ternyata benar, pandangan umum terbukti salah. Nyai Ontosoroh adalah sosok wanita yang pandai, tangguh dan tak mau menyerah pada nasib.

Kalimat yang kedua, juga keluar dari mulud Jean Marais. Kalimat ini juga ditujukan untuk Minke, saat dia bingung tentang perasaannya—dan perasaan Annelis kepadanya—kepada Annelis. Kalimat kedua ini tentang cinta, penulis tak bisa berkomentar panjang. Entah, bisa jadi ungkapan itu benar, cinta tidak datang secara langsung, tapi ada prosesnya. Atau bisa jadi tidak selalu demikian halnya.

Yang ketiga juga tentang cinta. Bukan tentang cinta an sich. Tapi lebih tantang perempuan. Juga bukan burupa kata-kata atau kalimat, tapi sikap seorang perempuan yang patah hati. Annelis adalah istri Minke. Dia sangat mencintai Minke, tak mau berpisah, bahkan dalam mimpi sekalipun. Dia selalu sakit jika jauh dari Minke. Namun pada akhirnya, hal yang tak sudi dimimpikan Annelis terjadi: dia harus berpisah dengan Minke dan Ibunya. Annelis sakit berhari-hari, pingsan tak sadarkan diri, sedangkan Minke dan Nyai Ontosoroh berusaha sekuat yang mereka bisa, supaya Annelis bisa tinggal. Tapi, perlawanan kalah. Annelis pun harus pergi. Dan yang paling mengejutkan, Annelis tidak menolehkan kepalanya sedikit pun saat dia meninggalkan rumah. Sebelum melangkahkan kaki keluar, dia mengatakan, bahwa hari itu merupakan pertemuan terakhirnya dengan ibu dan suaminya. Penulis menyimpulkan: begitulah perempuan yang setia mencinta, sekali dia kecewa, jangankan kembali, menoleh kebelakang pun tak sudi.

Saat Annelis pergi, minke berkata pada mertuanya: “Ma, kita kalah”. Mertuanya menjawab: “Iya Nyo, tapi kita telah melawan dengan sebaik-baik dan sehormat-hormatnya”. Inilah kalimat terakhir sebagai penutup novel seri pertama Tetralogi Pulau Buru karya Pramudya Ananta Toer, dan sekaligus salah satu dari empat kalimat yang paling disukai penulis.

Sebenarnya, perlawanan yang dilakukan Minke dan Nyai Ontosoroh kecil kemungkinan akan mendapatkan kemenangan. Karena mereka melawan orang Belanda, yang dalam cerita menjajah Nusantara. Kenapa mereka tetap melawan? Karena bagi mereka, melawan adalah sebaik-baik dan sehormat-hormat laku hidup. Lalu, sudahkah kita melawan dengan sebaik-baik dan sehormat-hormatnya, seperti yang dilakukan Nyai Ontosoroh dan Minke? Tentunya dengan musuh yang berbeda.

Peresensi: Zaim Ahya, Founder takselesai.com

Tulisan Zaim Ahya lainnya

Belajar Filsafat dari Akarnya

Previous Post

Saat Orang Awam Belajar Tasawuf Melalui Kitab Hikam

Next Post

Fahmi Saiyfuddin

Next Post

Fahmi Saiyfuddin

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?
oleh Ilham SR
21 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?
oleh Etika Filosofia
20 Februari 2026
1
ShareTweetSendShare

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

oleh admin
19 Desember 2024
0
ShareTweetSendShare

Moral dalam Lintasan Teknologi dan Agama

Definisi Moral
oleh Muhammad Imam Farouq
20 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

"Baca Apa Yang Ingin Kamu Baca"

Menu

Penulis

Kontak

Daftar

Menjadi Penulis

Syarat Ketentuan

Privacy Policy

Copyright © 2023 Resensi.id. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi

© 2022 Resensi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In