• Login
Resensi.id
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
Resensi.id
No Result
View All Result

Pintar, Berpengalaman tapi Selalu Sial

Ahmad Muqsith oleh Ahmad Muqsith
20 Februari 2026
kategori sastra
0
0
SHARES
20
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

​

Resensi buku Novel The Old Man and The Sea oleh Ahmad Muqsith

Pintar, berpengalaman tapi selalu Sial

Bagaimana cara anda memilih buku yang akan anda baca? Saya punya beberapa cara, 1) menyesuaikan bidang keilmuan apa yang ingin saya ketahui lebih dalam, 2) mencari tahu buku apa saja yang pernah dibaca tokoh yang saya idolakan, atau 3) mencari tahu buku apa saja yang pernah memenangkan nobel, sekurang-kurangnya pernah dinominasikan menerima nobel. Meski nobel sastra penentuan pemenangnya tentu bukan tanpa ada unsur “politis” sama sekali, setidaknya begitulah cara saya meminimalisir membaca buku yang kurang baik, menurut pengalaman saya 3 pedoman ini sangat membantu.

Maka saya putuskan membaca buku Ernest Hemingway, penulis asal Amerika yang memenangkan Nobel Sastra tahun 1954 untuk karya “The Old Man and The Sea” yang ia terbitkan pada tahun 1952. Selain alasan tersebut, menurut promosi salah satu akun buku di instagram tempat saya membeli, memberi keterangan bahwa Gus Dur (idola saya)  pernah membaca buku ini.

Buku ini secara ringkas mengisahkan pembuktian seseorang pelaut tua atas tuduhan takdir yang diberikan orang-orang di sekitarnya yang memanggilnya sebagai “Salao”. Kata salao sendiri berasal dari Spanyol dengan makna “bentuk ketidakberuntungan yang paling buruk”. Pelaut tua tersebut bernama Santiago. Selama 84 hari melaut, tidak satu ikanpun berhasil ia tangkap. Bagi yang punya pengalaman hidup di pesisir, tentu tahu seberapa buruk takdir Santiago tersebut.

Tekad Kuat dari Santiago yang Lemah

Manolin, seorang remaja yang ikut membantu melaut Santiago selama 84 hari, dilarang ikut kembali melaut bersama Santiago oleh kedua orang tuanya. Manolin hanya diizinkan melaut jika ikut kapal nelayan selain milik Santiago. Hidup sebatang kara di usia renta, Santiago yang punya prinsip kuat menghadapi kerasnya kehidupan melanjutkan babak baru kehidupannya. Santiago memutuskan melaut cukup jauh dibanding sebelum-sebelumnya, ia pergi ke Teluk Meksiko.

“..mungkin aku juga bisa (berhutang). Tapi aku berusaha untuk tidak berhutang. Awalnya kau meminjam, lalu lama-lama kau pasti akan mengemis..” (h.21)

. .Aku mungkin tak sekuat dugaanku. Tetapi aku tahu banyak trik dan aku punya tekad yang besar.. (h.28)

Begitulah sosok Santiago yang diperkenalkan Hemingway di awal cerita. Tekad yang besar, kepercayaan pada kemampuan diri sendiri, memperlihatkan sosok yang ingin merenggut martabatnya sebagai pelaut kembali ke pelukannya setelah dirampas lautan selama 84 hari . Dia tahu keterbatasannya, tetapi dia juga sudah menyiapkan antisipasi untuk semua hal-hal buruk yang akan menimpanya di laut.

..mendayung lembut untuk menjaga kail-kail tetap tegak dan pada kedalaman semestinya. Ia menjaga kail-kailnya lebih tegak dari siapapun, sehingga pada setiap kedalaman di kegelapan arus ada sebuah umpan yg menunggu tepat di mana ia menginginkanya.. (h. 38-39)

 

..Ia makan putih telur agar tubuhnya kuat. Ia makan semua itu selama bulan Mei agar menjadi kuat di bulan september dan oktober agar bisa menangkap ikan-ikan besar.. (h.46)

Pengalamannya dan kedalaman pengetahuannya seputar laut dan memancing, memperlihatkan sebuah paradoks, bahwa tidak peduli seberapa pintar dan seberapa siapnya dirimu menghadapi dunia yang keras, bisa saja kita tertimpa takdir menjadi “salao”.  Tidak jarang kita membutuhkan “sesuatu” di luar diri kita agar berhasil, tidak peduli seberapa pintar dan siapnya kita.

..jika orang lain mendengarku berbicara keras-keras mereka akan mengira aku gila. Tapi karena aku tidak gila, aku tak peduli apa pendapat orang mengenaiku… (h.49)

 

..pikirkanlah yang sedang kau kerjakan. Kau tak boleh berbuat hal yang bodoh.. (h. 59)

Seberapa sulit dan kerasnya kehidupan, tetap saja diri kitalah yang paling berhak dan tepat memotivasi diri sendiri. Santiago yang mulai kehilangan kesadaran di tengah terik matahari sebelum ikan Marlin raksasa menyeret kapal kecilnya, bergumam dan berdialog dengan diri sendiri. Dia membangkitkan kesadarannya dengan mengingat-ingat niat awal ia melaut., merebut martabatnya kembali dari laut. Mungkin saja terpintas di kepalanya untuk menyerah dan memilih menepikan kapal, tetapi bukan selemah itu tekadnya.

..Light brisa. Cuaca yang lebih menguntungkan aku dibanding dirimu wahai ikan..(h.78)

Akhirnya keberuntungan dari luar dirinya menghampiri, yaitu “light brisa” suatu kondisi yang membuatnya diuntungkan dalam proses menaklukan Ikan Marlin raksasa yang sudah terjebak pada kailnya dan tidak mau menyerah untuk berusaha kabur.

Keberuntungan bisa saja diciptakan, lihat bagaimana kakek tua ini membaca tanda alam untuk membantunya menaklukan ganasnya Marlin raksasa. Santiago dengan pengetahuan yang terbungkus pengalaman, menghitung setiap detail fenomena alam di lautan, seperti pepatah “keberuntungan adalah buah kemampuan dan persiapan”.

..aku tak boleh membiarkannya menyadari seberapa besar kekuatannya atau apa yang bisa ia lakukan untuk melepaskan diri dari kailku. Andai saja aku adalah dia, maka aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku dan berusaha keras merusak kail. Tetapi, terimakasih Tuhan, hewan ini tak sepintar manusia, meskipun mereka mempunyai kekuatan lebih.. (h.80)

Meski bagaimanapun juga, saya langsung teringat kekuatan buruh yang potensinya besar tapi tidak mereka sadari. Sehingga, benar kata Santiago (Pemilik alat produksi), beruntunglah mereka tidak cukup pintar, meski mereka punya kekuatan lebih. Saya memaknai seperti ini karena Hemingway juga mengatakan bahwa Santiago, Salao, Manolin sampai Ikan Marlin ini bisa menjadi apa saja di tangan intepretasi pembacanya.

 . . .dengan ucapan doanya, ia merasa lebih baik, meskipun kondisinya masih sama menderitanya..” (h.82)

Peak experience tentang God Spot, saya catat saat perkelahian Santiago mengimbangi besarnya kekuatan Ikan Marlin yang mencoba kabur. Inilah senjata manusia yang cukup primitif, berdoa pada Tuhannya. Meski tahu secara pasti akan digusur lahannya, seorang petani tentu akan merasa lebih baik jika sudah berdoa dan melaporkan ketidakadilan pada Tuhannya.

..setiap kali adalah saya yang baru, dan ia tidak pernah memikirkan masa lalu saat melakukannya.. (h.84)

 

..ia memutuskan bahwa ia dapat mengalahkan siapa saja jika ia begitu sangat menginginkannya.. (h.90)

Kenang Santiago muda saat adu panco, lagi-lagi dia memotivasi dirinya sendiri demi memenangkan pertarungan  adu kekuatan di tengah laut liar. Meski akhirnya Ikan Marlin raksasa tersebut menyerah, tetapi hanya kerangka tulangnya saja lah yang sampai ke tepi pantai. Dagingnya sudah habis dimakan Ikan Hiu yang mencium aroma anyir darah Marlin yang mencucur dari bekas luka kail Santiago.

Sekali lagi, tidak peduli seberapa cerdas anda, sebanyak apapun pengalaman anda, sehebat dan selama apapun anda memperjuangkan sesuatu, hiu tadi memperingatkan kita, bahwa untuk berhasil kita butuh sesuatu yang tidak jarang hal tersebut datang dari luar diri kita.

Santiago lesu pulang ke gubugnya. Tidak ada daging yang bisa dijual sesuai lamunannya di tepi laut saat semakin mendekati  pantai.  Ia harus menunda membeli ini dan itu sesuai di lamunannya di tengah laut beberapa waktu sebelumnya. Tetapi nelayan lain kagum sekaligus kaget, belum pernah mereka melihat kerangka Ikan Marlin sebesar yang ada di dekat kapal kecil Santiago. Begitulah kehidupan, tidak jarang, kekaguman seseorang tidak merubah takdir kita. Santiago harus menerima takdir, dan memutuskan akan berlayar (lagi) di hari ke 87, saya yakin akan ada hari ke 90 meski tanpa ikan tertangkap. Begitulah Santiago, yang lemah fisiknya tetapi tekadnya sangat kuat.

Judul Buku : Lelaki Tua dan Laut (the Old Man and the Sea)
Pengarang : Ernest Herningway
Penerbit : Narasi
Ukuran : 11.5 x 18.5cm
Halaman : 164 halaman
Peresensi: Ahmad Muqsith

Tags: Bagaimana cara resensi bukuresensi buku
Previous Post

Mangir; Potret Desa yang Melawan

Next Post

Gus Nadhir: Tidak Perlu Khawatir Banyak Tafsir Berbeda

Next Post

Gus Nadhir: Tidak Perlu Khawatir Banyak Tafsir Berbeda

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?
oleh Ilham SR
21 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?
oleh Etika Filosofia
20 Februari 2026
1
ShareTweetSendShare

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

oleh admin
19 Desember 2024
0
ShareTweetSendShare

Moral dalam Lintasan Teknologi dan Agama

Definisi Moral
oleh Muhammad Imam Farouq
20 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

"Baca Apa Yang Ingin Kamu Baca"

Menu

Penulis

Kontak

Daftar

Menjadi Penulis

Syarat Ketentuan

Privacy Policy

Copyright © 2023 Resensi.id. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi

© 2022 Resensi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In