“Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan.. Hidup yaang mengambil resiko membuatnya semakin menarik (h. 25).”
Saya pernah berkata pada istri saya, dalam hidup yang singkat ini minimal kita harus pernah membaca salah satu buku dari Paulo Coelho. Buku yang saya pilih kali ini adalah “Sang Alkemis” yang mengisahkan perjalanan spiritual seorang penggembala domba muda dalam perjalanan roller coaster kebatinan. Bahagia karena selangkah lebih dekat dengan hal yang ia impikan, terpelanting ke jarak yang mustahil ke perjalanan untuk meraih mimpi, lalu ada cara Tuhan yang mengembalikan ke perjalanan menjemput mimpi tersebut, lagi. Begitulah perjalanan hidup, harus pintar baca pertanda-Nya, kata Coelho.
“Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain Seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup mereka sendiri (h.31)”
Nasihat bijak semacam ini akan bertaburan sepanjang perjalanan Santiago, si bocah gembmala yang mempertaruhkan semua hartanya demi perjalanannya menjemput harta karun idamannya. Santiago sendiri namanya hanya disebut di bagian awal cerita, selanjutnya kita akan disuguhkan cerita perjalanan fisik dan dan rohaninya (pengembangan karakter). Kisah semacam ini seperti Sosok Minke di Bumi Manusia, dimana sang tokoh dalam cerita mengalami pengembangan diri, membuat kisah yang kita baca semakin hidup.
Coelho menuangkan berbagai renungan sufismnya melalui Santiago seperti:
“Orang memang suka bicara yang tidak-tidak, kadang-kadang lebih enak bersama domba-domba yang tidak pernah mengatakan apa-apa dan lebih enak lagi sendirian saja bersama buku-buku. buku-buku memaparkan cerita-cerita yang luar biasa saat kita ingin mendengarnya, sementara itu orang-orang suka membicarakan hal-hal yang sangat aneh sampai-sampai kita tidak tahu bagaimana mesti meneruskan percakapan (h.37).”
Jika kalian sekarang sudah bekerja, apakah pekerjaanmu yang sekarang merupakan mimpi semasa mudamu? Jika kau masih terlalu muda untuk bekerja, apa kuliah yang kau jalani adalah jurusan yang kau impikan sewaktu berusia lebih muda? Bagaimana kau menyebut semua itu sebagai takdir? Bagi Coelho, takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka (h.38). Jika kau ingin tetap tegus dalam perjalanan mengejar mimpimu (takdirmu), Coelho berpesan agar: ada hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan, supaya kau tidak melarikan diri dari takdirmu (63).”
Sampai halaman ini kita diajak bergumul untuk menanyakan pada diri sendiri mengenai nyali menuntaskan takdir yang sedari muda sebenarnya telah kita ketahui. Keberanian dan keteguhan membuat kita tidak akan menanyakan hal-hal yang meragukan langkah pengejaran mimpi kita. Setiap anak muda hendaknya membaca buku ini di saat mereka belum memiliki banyak pertanyaan mengenai takdir mereka.
Refelksi yang tepat pada titik nadir kehidupan ini adalah
“Setelah menyadari betapa luas kemungkinan-kemungkinan yang terbentang bagiku, aku bakal merasa lebih tertekan dibandingkan sebelum kau datang. Sebab aku jadi melihat hal-hal yang sebenarnya bisa kuraih namun tidak hendak kulakukan….Saat orang mengambil keputusan, berarti dia menceburkan diri dalam arus deras yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dibayangkannya ketika dia pertama-tama mengambil keputusan tersebut (h. 96).
Santiago dirampok di awal perjalanan, titik kebimbangan muncul untuk tetap melanjutkan perjalanan atau menetap bersama Penjaga toko kristal yang menampunya bekerja. Penjaga tersebut adalah manifestasi kebanyakan kita yang menyerah pada mimpi (takdir) yang mereka miliki dan berdamai pada realita yang harus dijalani sehari-hari, yang kadang sanagt berebda jauh dengan kehidupan dalam impian kita. Santiago mendobrak realita, ia melanjutkan perjalanan menuju takdir yang ia kehendaki.
Perjalanannya membawa ke tengah padang pasir yang diselimuti perang antar suku, dimana di tempat ini dia menemukan sang alkemis. Sosok yang bagiku seperti sosok sufi dalam tradisi islam. Alkemis ini yang akan membimbing Santiago melewati padang pasir dan menuju harta karun imppiannya.
Perjalanan Santiago menjadi sang Alkemis—orang yang memahami alam dan sunia—adalah perjalanan teguh pudarnya keyakinan seorang dalam menjalani panggilan hidup. Santiago merefleksikan perjalananya di bagian akhir:
“Ketika aku sungguh-sungguh mencari harta karunku, sepanjang jalan aku menemukan hal-hal yang tak akan pernah kulihat andaikan aku tak punya keberanian untuk mencoba segala sesuatu yang kelihatannya mustahil dicapai seorang anak gembala”
Sungguh suatu kelegaan selepas berbagai kemalangan dan tantangan yang terbayar jika kita berani bersungguh-sungguh pada panggilan perjalanan hidup. Coelho juga menasihati kita bahwa:
“Hati manusia memang seperti itu, orang-orang takut mengejar impian-impian mereka yang paling berharga. Sebab mereka merasa tidak layak mendapatkannya atau tidak akan pernah bisa mewujudkannya. Hati manusia menjadi takut kalau memikirkan orang-orang tercinta yang pergi selamanya atau saat-saat yang mestinya indah tapi ternyata tidak (h.175).”
Perjalanan Santiago memang layak disandingkan dengan usaha seorang yang pantang menyerah membangun usaha gagal berkali-kali namun akhirnya sukses juga, atau kalian yang menyoba melamar beasiswa LPDP ke Eropa dan berhasil di percobaan ke-enam. Meski begitu, aku bisa menggunakan semangat Santiago untuk hal remeh sehari-hari, seperti saat punya tumpukan baju kotor yang harus selesai dicuci, aku selalu mendambakan momen duduk betapa leganya perasaan setelah melihat semuanya berakhir rapi di jemuran.
Akhirnya saya ingin menutup ulasan buku ini dengan kalimat dari Coelho:
“Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang( h.178).”
Informasi Buku
| Judul Buku | Sang Alkemis |
|---|---|
| Pengarang/Penulis | Paulo Coelho |
| Penerbit | Gramedia Pustaka Utama |
| Tahun Terbit | 2024 |
| Jumlah Halaman | 211 |
| Alih Bahasa | Tanti Lesmana |
| Edisi/Cetakan | Cetakan ke-43 |
| Ukuran/Dimensi Buku | Tanti Lesmana |
| Peresensi | Ahmad Muqsith |
Resensi lain oleh Ahmad Muqsith
| |



