Masyarakat Bali mengenal kasta yang diwariskan leluhurnya sejak dulu. Kasta menunjukan keistimewaan peran seseorang dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Meskipun saat ini aplikasinya tidak se-“saklek” zaman dulu, namun pada beberapa aspek tertentu, keistimewaan itu masih dilestarikan hingga saat ini. Oka Rusmini membongkar kehidupan ber-“kasta” tersebut dalam novel Tarian Bumi setebal 182 halaman ini.
Sistem kasta yang dianut masyarakat Bali boleh dibilang sangat kompleks, ini terlihat dari sistem penamaan, pernikahan, peran dan fungsi di masyarakat, upacara adat dan keagamaan serta etika bermasyarakat antar beda kasta.
Ketajaman Oka Rusmini melihat budaya sosial masyarakat Bali, membuat “Tarian Bumi” diganjar penghargaan penulisan karya sastra 2003 oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. Ia menggugat kehidupan tradisi kehidupan Bali yang masyarakat luar Bali jarang mengetahuinya. Menjadi otokritik yang matang dan fundamental dalam mempertanyakan kemBali apakah masih relevan mempertahankan nilai-nilai konservatif di tengah arus modernitas seperti saat ini?
Oka Rusmini mencoba menyuarakan pergulatan batin dan pengorbanan perempuan Bali untuk mendapatkan kebahagiaan. Diskriminasi sosial budaya dalam kehidupan perempuan Bali adalah pertentangan keindahan alam yang selama ini dijual ke wisatawan. Ada sisi-sisi gelap dalam kehidupan sosial semesta perempuan Bali.
Ida Ayu Telaga Pidada
Tokoh utama dalam cerita ini adalah Ida Ayu Telaga Pidada. Seorang perempuan yang dalam darahnya mengalir kasta Brahmana, kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Telaga lahir dari rahim perempuan bukan bangsawan, Luh Sekar. Ayahnya, Ida Bagus Ngurah Pidada, seorang bangsawan yang ia panggil dengan nama yang agung, Aji. Panggilan untuk ayah di kalangan priyayi Bali.
Sebagai putri berdarah biru, jangan dibayangkan kehidupan Telaga berjalan indah. Ia justru merasakan suramnya dunia. Meskipun ayahnya lahir dari orangtua yang sama-sama berdarah brahmana, ternyata bukan jaminan menjadikannya laki-laki panutan.
Bagi Telaga, ayahnya seorang laki-laki idiot. Karena tidak bisa bersikap sebagai laki-laki.
Aji bisa berbulan-bulan tak pulang. Saat di rumah pun kerjanya hanya metajen atau adu ayam, dan duduk-duduk dekat perempatan bersama para begundal minum tuak, minuman keras khas Bali.
Ibu Telaga, Luh Sekar, seorang perempuan sudra. Kasta terendah dalam stratifikasi sosial masyarakat Bali. Menjadi istri Ida Bagus Ngurah Pidada, membuatnya menjadi seorang jero. Nama yang harus disandang perempuan sudra yang menjadi anggota keluarga griya.
Telaga tumbuh dalam lingkungan yang rumit. Toxic. Neneknya, ibu dari Aji, Ida Ayu Sagra Pidada, seorang perempuan yang tak ada habis-habisnya memaki ibu Telaga. Sebagai menantu, Luh Sekar tak punya kuasa untuk melawan. Selain hanya diam dan menangis.
Nenek selalu bertampang masam pada ibu Telaga saat anaknya pulang dalam kondisi mabuk atau terluka parah habis dikeroyok. Nenek menuding ibu tak bisa menjaga anaknya, ayah Telaga. Perlakuan kasar neneknya terhadap ibunya wujud kekecewaan pada anak laki-lakinya, Ngurah Pidada yang memperistri perempuan jelata.
Di sisi lain, Luh Sekar yang penari oleg, memang sudah berambisi menjadi perempuan yang menikah dengan kasta Brahmana untuk memperbaiki derajat hidupnya. Ia sudah bosan hidup dalam kemiskinan.
Menikah dengan seorang Ida Bagus memang membuat derajat Luh Sekar terangkat. Ia tinggal di dalam griya. Tempat tinggal keluarga suaminya yang dipandang terhormat dalam lingkungannya. Hidup dan berbaur dengan orang-orang berkasta Brahmana.
Patriarkhi dan Perbedaan Kasta
Tarian Bumi menurut penilaian saya sangat berani dalam menuturkan konflik ketidakadilan yang dialami jagat perempuan Bali. Seperti, perempuan Bali berkasta Brahmana tidak diperbolehkan menikah dengan lelaki berkasta lebih rendah. Perempuan sudra yang menikah dengan lelaki berkasta tinggi memikul sederet aturan saat masuk keluarga bangsawan.
Oka Rusmini dengan gamblang juga memotret kehidupan Ida Bagus Ngurah Pidada, yang tidak bisa menjadi contoh baik bagi keluarga dan masyarakat. Ya, Ida Bagus Ngurah adalah laki-laki yang hidup mengandalkan nasab, tanpa mempertimbangkan apakah hidupnya harus memberi manfaat pada masyarakat.
Ironisnya, sang ibu justru mengagumi anak lelakinya meski si anak kerap bikin masalah. Dalam keluarga Bali, anak laki-laki memang mendapat tempat tertinggi. Kehadiran anak lelaki menjadi kebanggaan. Karena kelak ia akan menjadi pewaris.
Oka tidak luput menyinggung perempuan Bali terutama dari kasta rendah yang hidup dalam himpitan kemiskinan, namun memilih tabah dan menjalani hidup sekuat tenaga.
Melalui kalimat liris, penulis mendeskripsikan perempuan Bali lebih memilih berpeluh. Karena hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup.
“Keringat mereka adalah api. Dari keringat mereka itulah asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Mereka pun menyusui laki-laki. Menyusui hidup itu sendiri. (hal.25)
Narasi ini seolah menguatkan stigma perempuan Bali yang justru menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Sedangkan laki-laki seperti tidak menanggung beban malu ketika ongkang-ongkang kaki dan bergantung hidup pada istri.
Konflik Rumit dan Orientasi Seksual
Sebagai novel yang memotret adat, istiadat, tradisi, dan agama, Tarian Bumi bukan cerita yang mudah dinikmati. Istilah dan silsilah dalam bahasa Bali bertebaran dalam cerita. Tapi jangan kuatir, penulis mencantumkan catatan kaki untuk memudahkan pembaca memaknai artinya.
Selain tokoh utama, ada beberapa tokoh lain yang diceritakan dan punya peran penting dalam membangun konflik dalam novel ini.
Seperti tokoh Luh Kenten, sahabat yang dipercaya oleh Luh Sekar. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan keras kepala. Perempuan yang tubuhnya memiliki kekuatan setara sepuluh laki-laki. Tubuh itu kuat dan tegap.
Sama seperti Luh Sekar, Luh Kenten seorang perempuan sudra. Tapi orang-orang di sekitarnya menghormatinya. Kecantikan yang dia miliki, khas Sudra; kulit hitam, matanya tajam, rambutnya panjang dan kerap digulung seadanya serta memiliki tubuh kuat.
Keakraban Luh Kenten dan Luh Sekar memantik isu tak sedap di kampungnya. Tetangganya berasumsi liar bahwa kedua perempuan itu menjalin kasih.
Ya, secara gamblang penulis mengisahkan sisi lain Luh Kenten yang memiliki ketertarikan dan rasa cinta pada perempuan.
Bagi Luh Kenten, tubuh perempuan merupakan semesta sesungguhnya. Ia mengibaratkan, tanpa tubuh perempuan dalam kehidupan, bumi tak memiliki roh. Alangkah dinginnya bumi jika hanya berisi laki-laki.
Pengalaman Buruk dengan Laki-Laki
Secara kritis, penulis menggambarkan alasan Luh Kenten yang tidak tertarik pada laki-laki karena pengalaman tidak menyenangkan yang ia alami saat melihat keseharian para lelaki di kampungnya.
Lelaki di warung kopi bisa sepanjang hari duduk santai mengangkat kaki. Sementara perempuan harus bekerja keras sepanjang hari. Obrolan para lelaki di warung itu tentang perempuan juga membuat Luh Kenten muak. Perempuan di mata mereka adalah sosok yang tak menuntut apa-apa. Selain perhatian dan puji-pujian. Kenten sakit hati pada lelaki.
Kenten menyimpan perasaan mendalam pada Luh Sekar. Di matanya, Sekar memiliki keindahan luar biasa. Kenten cemburu saat ada mata perempuan lain yang mencuri pandang pada Sekar. Tapi Kenten menahan diri. Tak menunjukkan kemarahannya. Dia tak punya cukup keberanian
Kenten mempertanyakan itu pada Tuhannya. Apakah salah jika ia tertarik pada perempuan? Apakah aib dan tak ada tempat bagi perempuan yang mencintai seorang perempuan juga? Kalau Tuhan boleh marah, kenapa Kenten tidak?
Membaca bagian yang sarat gugatan ini pembaca seperti diajak berpikir logis dan kritis. Memahami setiap persoalan dengan mengurai akar yang mencetuskan alasan-alasan seseorang menempuh jalan hidup tak lazim.
Keberanian Oka Rusmini merakit kisah dalam Tarian Bumi ini patut diapresiasi. Kedalaman konflik yang ia rangkai menjadi daya pikat bagi pembaca untuk tidak berhenti membaca karya sastra ini sampai tamat.
Buku ini juga bisa menjadi literatur kajian etnografi yang gurih dan relevan, buktinya buku ini telah dialih bahasakan ke bahasa Jerman dengam judul Erden tanz (2000).
| DETAIL BUKU | |
|---|---|
| Judul buku | : Tarian Bumi |
| Penulis | : Oka Rusmini |
| Halaman | : 182 |
| Penerbit | : Gramedia Pustaka Utama |
| Cetakan | : Pertama, Juli 2007 |
| ISBN | : 978-979-22-2877 |
| Peresensi | : Yeti Kartikasari |



