• Login
Resensi.id
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi
No Result
View All Result
Resensi.id
No Result
View All Result

Tempo dalam Upaya Memperkenalkan Pramoedya ke Generasi Muda

Ahmad Muqsith oleh Ahmad Muqsith
3 Maret 2026
kategori sastra, sejarah
0
Pramoedya Ananta Toer

Pram, Buku dan Film

0
SHARES
99
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Apakah kamu sudah mendengar nama Pramoedya Ananta Toer?

Sastrawan besar kelahiran Blora, Jawa Tengah, Pramoedya Ananta Toer merupakan nominasi penerima nobel sastra. Kebesaran namanya di dunia tidak berbanding lurus dengan penghormatan yang ia dapat di dalam negeri. Tempo yang gelisah akan lemahnya geliat literasi generasi muda akhirnya menerbitkan buku setebal 70-an halaman yang diberi judul “Pramoedya, Buku dan Film” sebagai pendongkrak minat baca generasi muda. Sosok Pram tentu menjadi pilihan tepat bagi tim penyusun dari Pusat Data dan Analisis Tempo untuk menjawab kegelisahan tersebut.

Tempo memang punya banyak edisi tokoh nasional, tetapi versi Pram ini lebih ringan, sebagian isi buku ini juga termuat dalam seri berjudul lain keluaran Tempo; Memahami Pramoedya Ananta Tur”. Saya melihat bahwa edisi-edisi Pram ini memang khusus diperuntukan untuk menaikkan minat baca generasi muda. Saya sendiri membacanya dalam perjalanan kereta api Jakarta-Semarang melalui aplikasi Ipusnas. Sosok Pram tidak salah untuk dipilih agar mengilhami minat baca generasi muda.

Buku ini memuat lima esai, 1) Dekontruksi Pararaton oleh Pramoedya. Esai ini membawa kita pada pemikiran dan kritikan Pram pada kondisi sisial-politik Indonesia, menurutnya masalahnya dari dulu sampai sekarang masih sama saja.

“Masyarakat elite (politik) yang tidak bekerja tetapi mau senang terus. Apa saja ditempuh. Itu sudah dimulai ratusan tahun lalu” (H. 36).

Esai selanjutnya 2) Pramoedya Ananta Toer: Saya ingin Irasionalitas Kita Dihilangkan“. Judul yang terlalu “Pram” banget, semangat untuk mendorong masyarakat agar meningkalkan berbagai irasionalitas ini juga terlihat dalam komentar sejarawan Onghokham terhadap karya Pram “Arok Dedes”. “Pram mengetengahkan rasionalitas ketimbang kisah asli dibumbui cerita magis”. Perang Pram melawan irasionoalitas bisa dirasakan dalam berbagai karyanya.

Esai selanjutnya 3) Imajinasi Sang Gubernur Jenderal, 4) Pramoedya, Buku dan Film lalu ditutup dengan 5) Giliran Pram di Layar Lebar.

Judul besar buku ini memang ditaruh di akhir bagian. Bagian ini lebih intim ke hal pribadi Pram, bukan lagi pemikiran dan karya-karyanya secara lebih khusus. Isinya tentang apa lagu kesukaan Pram, bagaimana hubungannya dengan anak-cucu dan bagaimana Pram menolak berbagai tawaran buku-bukunya difilmkan meskipun dengan royalti yang nominalnya fantastik.

“Pram suka banget dinyanyikan lagu Amor Amor dan Ave Maria. Pernah cucu-cucunya menanyikan lagu Peterpan, Pram tidak mengerti, tetapi ia senang banget,” Astuti Ananta Toer (Titik).

Pram terlihat tidak mendikte pertumbuhan bakat dan minat anak cucunya. Ia menerangkan dengan nada sedih bahwa anak cucunya tidak mempunyai budaya membaca seperti masa mudanya.

“Anak dan cucu saya tidak mau membaca surat kabar. Mereka tidak lagi punya budaya membaca. Mereka lebih senang nonton telivisi,” ujar Pram (H. 53).

Saya jadi membayangkan jika anak dan cucunya Pram mengalami penurunan budaya membaca, apalagi kita yang keturunan buruh tani yang hanya mengenal cangkul dan sawah? Refleksi ini membuat saya sadar pada titik di mana apa yang dilakukan Tempo sudah sangat tepat untuk merangsang minat baca. Bayangkan saja, sebagai angkatan generasi milenial, berdasarkan riset Alvara Institute saya masuk yang berinternet dengan intensitas tinggi, sementara generasi Z malah sudah masuk kategori kecanduan. Budaya Membaca menjadi tantangan baru bagi generasi muda. Menaruh buku Pram dalam format halaman tidak terlalu banyak dan bisa diakses bebas di Ipusnas, membuat kita harus mengapresiasi langkah yang diambil Tempo.

Buku Pram memang pernah ditawar 15 miliyar untuk difilmkan oleh Oliver Stone. Sutradara film JFK dan Wall Street tersebut tergiur dengan “Bumi Manusia”, tetapi Pram enggan melepas anak rohaninya. Ia bersikeras bahwa bukunya hanya boleh difilmkan oleh anak bangsanya sendiri (WNI). Pada perkembangannya hak tersebut diberikan Pram kepada Hatoek Subroto yang akhirnya menggandeng Leo Sutanto. Proyek sebenarnya sudah berjalan sejak 2005, meskipun film tersebut baru bisa disaksikan di tahun 2020 dan dengan produser dan sutradara yang baru.

Buku ini ditutup dengan tambahan data untuk menjawab kenapa Pram gagal mendapatkan nobel sastra. Pada perayaan ulang tahun ke-81 Pram di Taman Ismail Marzuki, ditampilkan 200 sampul buku Pram yang telah dialihbahasakan di berbagai negara. Desain sampul itu dinilai tidak mampu merepresentasikan karya pram seutuhnya. Pendapat-pendapat seperti ini juga bisa ditemukan dalam buku karya adiknya, Koeslah Soebagyo Toer, “Mengenal Pramoedya Dari Dekat Sekali”.

Buku tipis tapi berbobot seperti ini, cocok buat generasi milenial dan generasi Z yang suka Traveling. Kita bisa membacanya di kereta, menunggu jadwal boarding pesawat atau sambil duduk santai di pantai, apalagi kita bisa membacanya tanpa bayar di dalam gengaman kita melalui aplikasi Ipusnas (Perpustakaan Nasional).

Informasi Buku

Judul BukuPramoedya, Buku dan Film
Pengarang/PenulisPusat Data dan Analisa Tempo
PenerbitTempo Publishing
Tahun Terbit2020
Jumlah Halamanvi + 67
IpusnasTersedia
PeresensiAhmad Muqsith
Resensi lain oleh Ahmad Muqsith
  • Santiago dalam Perjalanan Alekemis yang Sufistik
  • Ekonomi Nusantara: Pengganti Neoliberalisme yang Gagal Menyejahterakan
  • Belajar  Kehormatan Perempuan dari Nawal el-Saadawi
  • Populisme Kiri: Dari Paska-Politik ke Paska-Demokrasi | Resensi Buku Populisme Kiri
  • Melacak Energi Dandhy dalam Melawan Neoliberalisme
Tags: Bagaimana cara resensi bukuBuku dan FilmBumi ManusiaPramoedyaPramoedya, Buku dan FilmPusat Data dan Analisa TempotempoTempo Publishing
Previous Post

PENTINGNYA EDUKASI SEKSUAL SEJAK DINI

Next Post

Santiago dalam Perjalanan Alekemis yang Sufistik

Next Post

Santiago dalam Perjalanan Alekemis yang Sufistik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?

Bagaimana Islam Memandang Aborsi, Childfree dan Perempuan Pencari Nafkah untuk Suaminya?
oleh Ilham SR
21 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?

Apakah Perempuan Sekarang Sudah Menjadi Sarinah Seperti yang Soekarno Impikan?
oleh Etika Filosofia
20 Februari 2026
1
ShareTweetSendShare

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

Panduan Menulis Resensi Buku

oleh admin
19 Desember 2024
0
ShareTweetSendShare

Moral dalam Lintasan Teknologi dan Agama

Definisi Moral
oleh Muhammad Imam Farouq
20 Februari 2026
0
ShareTweetSendShare

"Baca Apa Yang Ingin Kamu Baca"

Menu

Penulis

Kontak

Daftar

Menjadi Penulis

Syarat Ketentuan

Privacy Policy

Copyright © 2023 Resensi.id. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Beasiswa
    • Beasiswa Go-Book
    • Beasiswa Go-Read
    • Beasiswa Go-Res
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Peresensi

© 2022 Resensi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In