Apakah kamu sudah mendengar nama Pramoedya Ananta Toer?
Sastrawan besar kelahiran Blora, Jawa Tengah, Pramoedya Ananta Toer merupakan nominasi penerima nobel sastra. Kebesaran namanya di dunia tidak berbanding lurus dengan penghormatan yang ia dapat di dalam negeri. Tempo yang gelisah akan lemahnya geliat literasi generasi muda akhirnya menerbitkan buku setebal 70-an halaman yang diberi judul “Pramoedya, Buku dan Film” sebagai pendongkrak minat baca generasi muda. Sosok Pram tentu menjadi pilihan tepat bagi tim penyusun dari Pusat Data dan Analisis Tempo untuk menjawab kegelisahan tersebut.
Tempo memang punya banyak edisi tokoh nasional, tetapi versi Pram ini lebih ringan, sebagian isi buku ini juga termuat dalam seri berjudul lain keluaran Tempo; Memahami Pramoedya Ananta Tur”. Saya melihat bahwa edisi-edisi Pram ini memang khusus diperuntukan untuk menaikkan minat baca generasi muda. Saya sendiri membacanya dalam perjalanan kereta api Jakarta-Semarang melalui aplikasi Ipusnas. Sosok Pram tidak salah untuk dipilih agar mengilhami minat baca generasi muda.
Buku ini memuat lima esai, 1) Dekontruksi Pararaton oleh Pramoedya. Esai ini membawa kita pada pemikiran dan kritikan Pram pada kondisi sisial-politik Indonesia, menurutnya masalahnya dari dulu sampai sekarang masih sama saja.
“Masyarakat elite (politik) yang tidak bekerja tetapi mau senang terus. Apa saja ditempuh. Itu sudah dimulai ratusan tahun lalu” (H. 36).
Esai selanjutnya 2) Pramoedya Ananta Toer: Saya ingin Irasionalitas Kita Dihilangkan“. Judul yang terlalu “Pram” banget, semangat untuk mendorong masyarakat agar meningkalkan berbagai irasionalitas ini juga terlihat dalam komentar sejarawan Onghokham terhadap karya Pram “Arok Dedes”. “Pram mengetengahkan rasionalitas ketimbang kisah asli dibumbui cerita magis”. Perang Pram melawan irasionoalitas bisa dirasakan dalam berbagai karyanya.
Esai selanjutnya 3) Imajinasi Sang Gubernur Jenderal, 4) Pramoedya, Buku dan Film lalu ditutup dengan 5) Giliran Pram di Layar Lebar.
Judul besar buku ini memang ditaruh di akhir bagian. Bagian ini lebih intim ke hal pribadi Pram, bukan lagi pemikiran dan karya-karyanya secara lebih khusus. Isinya tentang apa lagu kesukaan Pram, bagaimana hubungannya dengan anak-cucu dan bagaimana Pram menolak berbagai tawaran buku-bukunya difilmkan meskipun dengan royalti yang nominalnya fantastik.
“Pram suka banget dinyanyikan lagu Amor Amor dan Ave Maria. Pernah cucu-cucunya menanyikan lagu Peterpan, Pram tidak mengerti, tetapi ia senang banget,” Astuti Ananta Toer (Titik).
Pram terlihat tidak mendikte pertumbuhan bakat dan minat anak cucunya. Ia menerangkan dengan nada sedih bahwa anak cucunya tidak mempunyai budaya membaca seperti masa mudanya.
“Anak dan cucu saya tidak mau membaca surat kabar. Mereka tidak lagi punya budaya membaca. Mereka lebih senang nonton telivisi,” ujar Pram (H. 53).
Saya jadi membayangkan jika anak dan cucunya Pram mengalami penurunan budaya membaca, apalagi kita yang keturunan buruh tani yang hanya mengenal cangkul dan sawah? Refleksi ini membuat saya sadar pada titik di mana apa yang dilakukan Tempo sudah sangat tepat untuk merangsang minat baca. Bayangkan saja, sebagai angkatan generasi milenial, berdasarkan riset Alvara Institute saya masuk yang berinternet dengan intensitas tinggi, sementara generasi Z malah sudah masuk kategori kecanduan. Budaya Membaca menjadi tantangan baru bagi generasi muda. Menaruh buku Pram dalam format halaman tidak terlalu banyak dan bisa diakses bebas di Ipusnas, membuat kita harus mengapresiasi langkah yang diambil Tempo.
Buku Pram memang pernah ditawar 15 miliyar untuk difilmkan oleh Oliver Stone. Sutradara film JFK dan Wall Street tersebut tergiur dengan “Bumi Manusia”, tetapi Pram enggan melepas anak rohaninya. Ia bersikeras bahwa bukunya hanya boleh difilmkan oleh anak bangsanya sendiri (WNI). Pada perkembangannya hak tersebut diberikan Pram kepada Hatoek Subroto yang akhirnya menggandeng Leo Sutanto. Proyek sebenarnya sudah berjalan sejak 2005, meskipun film tersebut baru bisa disaksikan di tahun 2020 dan dengan produser dan sutradara yang baru.
Buku ini ditutup dengan tambahan data untuk menjawab kenapa Pram gagal mendapatkan nobel sastra. Pada perayaan ulang tahun ke-81 Pram di Taman Ismail Marzuki, ditampilkan 200 sampul buku Pram yang telah dialihbahasakan di berbagai negara. Desain sampul itu dinilai tidak mampu merepresentasikan karya pram seutuhnya. Pendapat-pendapat seperti ini juga bisa ditemukan dalam buku karya adiknya, Koeslah Soebagyo Toer, “Mengenal Pramoedya Dari Dekat Sekali”.
Buku tipis tapi berbobot seperti ini, cocok buat generasi milenial dan generasi Z yang suka Traveling. Kita bisa membacanya di kereta, menunggu jadwal boarding pesawat atau sambil duduk santai di pantai, apalagi kita bisa membacanya tanpa bayar di dalam gengaman kita melalui aplikasi Ipusnas (Perpustakaan Nasional).
Informasi Buku
| Judul Buku | Pramoedya, Buku dan Film |
|---|---|
| Pengarang/Penulis | Pusat Data dan Analisa Tempo |
| Penerbit | Tempo Publishing |
| Tahun Terbit | 2020 |
| Jumlah Halaman | vi + 67 |
| Ipusnas | Tersedia |
| Peresensi | Ahmad Muqsith |
Resensi lain oleh Ahmad Muqsith
| |



